Bagaimana berjodoh dengan TAO?

Spread the love

Diceritakan kembali oleh Lie Ping Sen.
走遍道观寺庙,背诵真经千卷,就可得道吗?

兄弟二人皆立志远游修道,无奈父母年迈,弟妹年幼,老大家里还有病妻弱子,所以一直未能成行。

某日,一高道路过,兄弟二人要拜其为师,并将家中难处诉说一遍。高道微闭双目,喃喃自语:”舍得,舍得,没有舍哪来得?你二人悟性皆不够,十年后我会再来。”然后,飘然而去。

哥哥自觉顿悟,手持经书决绝而去。弟弟望望父母,看看病嫂幼妹,终不能舍弃。

十年后,哥哥归来,口诵经诀,念念有词,仙风道骨,略见一斑。再看弟弟,弯腰弓背,面容苍老,神情呆滞,反应缓慢。

高道如期而至,问二人收获。

哥哥说:十年内游遍高山大川,走遍寺庙道观,背诵真经千卷,感悟万万千千。

弟弟说:十年内送走老父老母,病嫂身体康复,幼妹成家立业。但因劳累无暇诵读经书,恐与大师无缘。

高道微微一笑,决定收弟弟为徒。

哥哥不解,追问缘由。

高道答:”道在心中,不在名山大川;心中有善,胜读真经千卷;父母尚且不爱,谈何济度众生?舍本逐末,终致与道无缘。”

哥哥默然。

Mengunjungi taokwan dan kelenteng di seluruh dunia, menghafal ribuan kitab suci, apakah dapat De Dao?

Dahulu kala, ada dua orang kakak beradik yang bertekad ingin mengembara untuk belajar Tao. Namun mereka tidak berdaya, karena orang tua telah renta dan adik-adik masih kecil. Selain itu, kakak tertua mempunyai istri yang sakit-sakitan dan anak yang berbadan lemah. Dua orang kakak beradik itu pun terus menerus tidak mendapat kesempatan untuk mengembara.

Suatu hari, seorang Taoshi berilmu tinggi kebetulan melintas di daerah tersebut. Kedua kakak beradik ini buru-buru menjumpainya dan memohon untuk dijadikan murid. Mereka juga menceritakan seluruh kesulitan yang selama ini terus menimpa keluarga besar mereka. Setelah mendengarkan, Taoshi tersebut memejamkan mata sambil bergumam: “Ada yang dilepaskan baru bisa mendapatkan, ada yang dikorbankan baru dapat menghasilkan. Jika tak ada yang direlakan maka bagaimana bisa mendapatkan? Kalian berdua masih belum cukup mengerti, saya akan datang lagi 10 tahun mendatang.” Lalu Taoshi itu pergi.

Mendengar ini, sang kakak terdiam dan berpikir. Kemudian ia membulatkan tekad, menggenggam erat kitab suci di tangan dan pergi mengembara. Sementara itu sang adik memutuskan untuk kembali ke rumah untuk merawat seluruh keluarganya.

Begitulah 10 tahun terlewati. Sang kakak kembali dari pengembaraan dengan penampilan yang berubah drastis. Ia dapat melafal seluruh kitab suci yang pernah ia baca, ucapannya halus dan lancar, perawakannya bersih elegan layaknya dewa, ia mengabdikan hidupnya untuk mencari kebenaran dan mendekati dewa. Sementara itu, sang adik juga telah berubah drastis. Pinggangnya melengkung punggungnya membungkuk, parasnya telah menua, reaksinya bahkan agak lambat.

Beberapa hari kemudian, sang Taoshi kembali datang untuk bertanya apa yang telah dipelajari oleh si kakak beradik.

Si kakak berkata: “Dalam sepuluh tahun ini aku mengembara melintasi gunung dan sungai, mengunjungi seluruh taokwan dan kelenteng yang aku lewati, menghafal ribuan kitab suci, belajar dan mengertikan seluruh hal di dunia.”

Si adik berkata: “Dalam sepuluh tahun ini, aku mengantar ayah ibu yang wafat pergi dari dunia, aku merawat kakak ipar hingga pulih, adik-adik telah menikah dan punya pekerjaan masing-masing. Tapi, aku tidak memiliki waktu luang untuk membaca kitab suci dan belajar. Sepertinya aku tidak berjodoh untuk menjadi murid anda.”

Sang Taoshi tersenyum, lalu memutuskan untuk membawa si adik untuk dijadikan murid.

Si kakak tidak paham dan bertanya alasannya.

Taoshi berkata: “Tao adanya di dalam hati, bukan di gunung dan sungai. Kebaikan yang ada di dalam hati mengalahkan kemampuan menghafal ribuan kitab suci. Jika terhadap orang tua saja tidak bisa sayang, maka omong kosong saja ingin berbuat demi dunia. Kau telah tersesat dan lupa pada akar, maka sangatlah disayangkan, kau tidak berjodoh dengan Tao.”

Si kakak hanya bisa terdiam.


Spread the love

Categories: Artikel

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.