Gema Perdamaian XII

Spread the love

Gema Perdamaian XII dilaksanakan di Monumen Bajra Sandhi Renon, Denpasar BALI adalah Gema Perdamaian bagi Dunia.  Menghaturkan Doa dari berbagai Agama dan Kepercayaan, serta mengajak semua orang tanpa memandang suku bangsa, agama, dan keyakinan untuk bersama-sama mengaungkan Suara Perdamaian bagi Dunia.   Dilaksanakan pada hari Sabtu, 11 Oktober 2014, dihadiri Gubernur Bali.

DSCN1918

Ribuan peserta dari sejumlah elemen masyarakat lintas agama berkumpul di Monumen Bajra Sandhi Renon, Denpasar, untuk menggelar “Gema Perdamaian” di tengah situasi bangsa dan kondisi di berbagai belahan dunia masih banyak terdapat konflik.

“Damai dan harmoni itu tidak jatuh dari langit begitu saja, tetapi harus diusahakan dan dipertahankan. Kalau semua mendambakan perdamaian dan harmoni, maka harus dimulai dari diri kita sendiri dengan menghilangkan amarah dan dendam dan tak boleh serakah yang mencederai perdamaian,” kata Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat menghadiri Gema Perdamaian di Denpasar, Sabtu (11/10/2014), seperti dikutip Antara.

Menurut dia, meski Bali pulau kecil, tetapi gema damai diharapkan akan terdengar mendunia. Apalagi, lanjut Mantan Kepala Polda Bali itu, sejumlah slogan disematkan kepada Pulau Dewata, di antaranya “Island of Peace and Democracy”, “Island of Love” yang diharapkan menjadi jalan menunjukkan suara perdamaian di Bali kepada dunia.

Pastika juga mengimbau umat manusia untuk selalu introspeksi di tengah latar belakang suku, agama, dan ras yang beragam di Indonesia.

“Mungkin kita berbeda, tetapi intinya tidak ada agama yang mengajarkan keburukan, semua mengajarkan damai dan kasih sayang,” ucapnya.

Ketua Panitia Gema Perdamaian 2014, Made Suryawan mengatakan, tidak ada perbedaan terhadap pelaksanaan kegiatan tahun-tahun sebelumnya. Ia menegaskan, tidak ada hal khusus yang diangkat meskipun sejumlah masalah terjadi di antaranya terkait gonjang-ganjing perpolitikan di Tanah Air.

Namun, yang lebih ditekankan suara perdamaian yang harus ditingkatkan baik kuantitatif maupun kualitatif.

“Kami tidak ikut campur politik. Kami ingin kegiatan ini berlandasakan kemurnian. Kami sadari perdamaian itu menjadi sesuatu hal yang langka dan mahal. Oleh karena itu, ini digalakkan lagi secara kualitatif dan kuantitatif,” katanya.

Ia mengharapkan agar pemerintah daerah di seluruh Indonesia juga ikut menyosialisasikan gema perdamaian agar kegiatan itu tak hanya dimaknai di Pulau Dewata.

Pada pelaksanaan ke 11 kali ini, kegiatan yang digelar sehari sebelum peringatan Bom Bali I tahun 2002 itu, sejumlah kegiatan digelar di antaranya ritual “Padayatra” dengan mengelilingi lapangan mengagungkan nama Tuhan, doa-doa, hingga penyalaan obor perdamaian.

Selain dihadiri ribuan masyarakat dan tokoh agama, kegiatan itu juga dihadiri Pangdam IX/Udayana Mayor Jenderal Torry Djohar Banguntoro, Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta, dan sejumlah tokoh masyarakat lain.

DSCN1919

DSCN1930

DSCN1934

DSCN1936

DSCN1935

DSCN1938

DSCN1939

DSCN1941

DSCN1944

DSCN1946

DSCN1950

DSCN1951

DSCN1954

DSCN1966

DSCN1967

DSCN1969

DSCN1978

DSCN1974


Spread the love

Categories: Acara & Kegiatan, TAO on Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.