Guan Zhong dan Bao Shu Ya

Spread the love

Bao Shuya Melepas Tawaran Jabatan untuk Guan Zhong yang Lebih Berbakat.

Guan Zhong (723 ~ 645 SM) lahir di tempat yang sekarang sebagai Provinsi Anhui. Dia dan Bao Shuya sudah sangat dekat sejak mereka masih kecil. Keluarga Guan Zhong miskin dan sering menerima bantuan dari Bao Shuya. Setelah mereka dewasa, mereka menjadi rekan bisnis, kemudian terjun ke politik dan juga mengajar anak-anak kaisar.

Bao Shuya mengajar Xiao Bai dan Guan Zhong mengajar Jiu. Xiao Bai dan Jiu adalah pangeran-pangeran Kaisar Qi pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur. Keduanya berada di luar negeri ketika Kaisar Qi dan perdana menterinya tewas dalam kerusuhan. Kedua pangeran bergegas pulang untuk naik takhta. Karena Xiao Bai sampai duluan, ia yang diangkat jadi kaisar Qi. Namun, karena tahu akan bakat Guan Zhong, alih-alih ingin mengincar jabatan perdana menteri, Bao Shuya malah memohon kepada Kaisar Qi yang baru (Xiao Bai) untuk mengangkat Guan Zhong menjadi perdana menteri.

Guan Zhong berkata: “Ketika saya berada dalam kemiskinan, Bao Shuya dan saya adalah mitra bisnis. Setiap kali untuk pembagian keuntungan, saya selalu menginginkan lebih. Bao Shuya tidak berpikir saya rakus akan uang, karena dia tahu keluarga saya miskin. Ada saat-saat saya melakukan kesalahan dan membuatnya kesulitan. Bao Shuya tidak menganggap saya bodoh, tetapi berpikir bahwa saya hanya bernasib buruk. Saya telah menjadi pejabat berkali-kali, tetapi dipecat. Bao Shuya melihat dengan cara yang berbeda bukan bahwa saya tidak mampu, tetapi bahwa pekerjaan itu tidak tepat untuk saya. Saya pergi berperang berkali-kali dan sering melarikan diri dibawah tekanan. Bao Shuya mengerti. Dia tahu bahwa saya memiliki seorang ibu yang harus ditopang dan bukan orang yang gemetar ketakutan. Bao Shuya percaya bahwa saya memiliki kemampuan, hanya saja saya belum dikenal dan dihargai. Saya harus mengatakan bahwa meskipun orang tua saya yang membesarkan saya, Bao Shuya yang benar-benar mengerti saya!”

Setelah Guan Zhong diangkat jadi perdana menteri, Bao Shuya bersedia menempatkan dirinya di bawah Guan Zhong untuk menjadi asistennya menangani masalah negara. Kebajikannya juga mempengaruhi keturunannya. Setelah kematian Bao Shuya, anak-anaknya dan generasi berikutnya mewarisi gaji dan tanah dari Kerajaan Qi. Banyak keturunannya adalah bangsawan terkenal. Orang-orang memuji bakat Guan Zhong, tetapi mereka menunjukkan lebih banyak kekaguman atas ketulusan Bao Shuya, yang tidak mengejar kekuasaan dan lebih mementingkan negara diatas jabatan.

Bakat Guan Zhong yang Terbukti Mensejahterakan Negara

Segera setelah penunjukannya sebagai perdana menteri, Guan memulai modernisasi negara Qi dengan berbagai reformasi, dan kebijakannya kemudian membantu Kaisar Qi menjadi kekuatan terbesar diantara “lima kekuatan” pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur.

Guan memusatkan kekuasaan negara dengan membagi negara menjadi daerah-daerah untuk dikelola oleh kepala daerah yang melaporkan langsung kepada Adipati. Guan Zhong menghapus tradisi mewariskan peran pemerintah resmi kepada bangsawan, hanya berdasarkan latar belakang keluarga (nepotisme).

Guan membagi rakkyat menjadi empat kelompok : pejabat, petani, pengrajin, dan pedagang. Dia kemudian mengembangkan metode yang lebih efektif dalam memilih pejabat yang berbakat menggunakan program pelatihan dan pendidikan baru, dan dengan demikian, juga melahirkan generasi birokrat profesional.

Alih-alih bergantung pada sekelompok kecil tentara yang dilatih di bawah keluarga aristokrat yang berbeda, ia menawarkan ke penduduk desa-desa secara langsung untuk mengajak siapa pemuda-pemuda desa yang kuat yang bersedia dilatih menjadi tentara. Dengan reformasi ini, Guan membantu Qi mengarahkan tanggung jawab administratif dari klan aristokrat yang dulunya kuat ke biro profesional dan terpusat.

Reformasi-reformasi ini merupakan awal dari filosofi legalisme yang muncul di mana sebelumnya monarki harus absolut, yang mengatur kontrol ketat atas semua kegiatan, dengan sistem penghargaan dan hukuman yang seragam untuk semua orang.

Namun, Guan bukan seorang legalis dalam arti yang ketat. Sementara ia mengadvokasi administrasi negara dan kontrol, ia juga percaya pada kebajikan moral dan tradisi keagamaan Tionghoa.

Guan Zhong juga percaya bahwa kesejahteraan rakyat adalah dasar dari kuatnya sebuah negara. Orang-orang yang kenyang akan dengan mudah dididik dengan kesopanan dan etiket, sehingga tidak mungkin makar.

Guan Zhong menekankan bahwa penguasa harus memperhatikan kemakmuran ekonomi semua kelas sosial dan memastikan bahwa rakyat bersedia untuk melayani penguasa. Guan percaya bahwa empat pilar negara adalah kesopanan, keadilan, integritas, dan hati nurani. Penguasa harus hidup sesuai dengan prinsip-prinsip ini dan menjadi teladan kebajikan.

kisah Bao Shuya dan Guan Zhong, dua negarawan negara Qi di era Musim Semi dan Musim Gugur, Cina.
Bao Shuya dan Guan Zhong itu bersahabat. Sedari muda, mereka sudah sering kongsi berbisnis dimana Bao Shuya menjadi pemodal dan Guan Zhong menjadi pelaksana. Walau pegawai Bao Shuya sering marah kenapa bagi hasilnya timpang, Bao Shuya berkata singkat, “Kalau bukan Guan Zhong, belum tentu dapat untung.”
Semakin dewasa, mereka kemudian masuk kepegawaian negara, masing-masing menjadi guru dari pangeran yang berbeda. Bao Shuya menjadi guru dari pangeran Xiaobai. Saat majikan mereka tewas, terjadi perebutan kekuasaan antara para pangeran. Di saat saat terakhir Guan Zhong berusaha membunuh pangeran Xiaobai tapi gagal. Pangeran Xiaobai akhirnya naik tahta dengan nama Duke Huan.
Ketika Duke Huan mengatakan kepada gurunya bahwa Bao Shuya akan dia jadikan Perdana Menteri, Bao Shuya malah menolak dan memohon agar beliau mengangkat… Guan Zhong. Dengan berat hati, Duke Huan mengangkat Guan Zhong, dan ternyata memang Guan Zhong mampu bekerja dan memajukan negara Qi.
Terakhir, Guan Zhong jatuh sakit dan merekomendasikan orang lain kepada Kepala Negara untuk menggantikan posisinya. Beberapa teman Bao Shuya saat berkunjung ke rumahnya mengatakan betapa tidak tahu terima kasihnya Guan Zhong karena tidak merekomendasikan nama Bao Shuya. Bao Shuya tertawa dan berkata bahwa di situlah kenapa dia selalu mendukung Guan Zhong. Karena kemampuannya menilai orang, Guan Zhong tahu Bao Shuya tidak akan mampu menggantikannya di posisi Perdana Menteri, dan Bao Shuya setuju.

Morale of the story: Tidak ada orang yang sempurna. Kalau mau mencapai kemajuan negara, kita hanya bisa mengandalkan orang-orang yang ada, bukan menunggu orang-orang yang kita mau.


Spread the love

Categories: Cerita Inspiratif

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.