Hua Tuo (華佗仙師)

Spread the love

Hua Tuo: Legenda Seorang “Tabib Setengah Dewa”

Hua Tuo (Hanzi: 華佗) (Tahun 145 ~ 208 Masehi), lahir di Kabupaten Qiao (sekarang Haochou, Anhui) adalah seorang tabib yang sangat terkenal pada penghujung Dinasti Handan Zaman Tiga Negara (San Guo). Beliau bernama lengkap Hua Yuanhua (華元化).

Meskipun dengan menggunakan metode pemeriksaan yang sangat sederhana, dibandingkan dengan metode pemeriksaan kedokteran modern. Hua Tuo, seorang dokter super jenius di zaman Dinasti Han (206 SM – 200 M), mampu mendiagnosa penyakit seorang pasien penderita nyeri hebat dengan tepat, sebagai penyakit kronis. Lalu menentukan terapi yang efektif untuk mengatasinya, dengan cara membedah perut si pasien, sebuah tindakan pengobatan yang dianggap aneh dan jauh melampaui zamannya. Terakhir dengan jujur dan kerendahan hati, ia menyimpulkan bahwa tindakan bedah perut yang dilakukannya hanya untuk menghilangkan rasa nyeri, karenanya tidak akan memperpanjang usia pasien, yang menurut dugaannya tidak lebih dari 10 tahun lagi. Aneh bin ajaib, persis sepuluh tahun kemudian pasien tersebut meninggal, seperti yang diprediksikan Hua Tuo.

Demikian sepenggal legenda populer yang didengungkan dalam biografi resmi sang Dokter ahli bedah Tiongkok yang  pertama. Kejeniusan Hua Tuo sebagai dokter, terekam dalam semua bidang Pengobatan Cina Tradisional (TCM). Dalam bidang akupunktur, ia dianggap sebagai penemu sekelompok titik akupunktur yang sering digunakan para akupunkturis karena keefektifannya dalam mengobati penyakit tertentu. Sebagai penghormatan, kelompok titik akupunktur tersebut dinamai dengan namanya dan terkenal dengan nama Hua Tuo Jiaji.

Dalam bidang herbal, Hua Tuo menciptakan berbagai herbal anestesi. Salah satunya yang terkenal adalah bubuk pemati rasa (Mafai San), yang dicampur alkohol sebelum pembedahan. Resep kunonya ini hilang, tetapi bahan-bahan yang diduga termasuk dalam resep tersebut diantaranya cannabis dan datura, yang pada masa Dynasty Song, dicatat sebagai anestesi..

Bahkan dalam bidang seni bela diri Cung kwok klasik, Hua Tuo juga terkenal sebagai pencipta serangkaian jurus qi gong yang dikenal sebagai the frolics of the five animals. Serangkaian jurus qi gong yang dimaksudkan untuk mencegah, memelihara dan meningkatkan kesehatan.Dalam latihan qi gong ini seseorang dianjurkan untuk meniru gerakan harimau, rusa, beruang, monyet dan burung. Praktek latihan ini kemudian dimasukkan ke dalam berbagai praktik seni bela diri untuk meningkatkan kesehatan seperti taijiquan.

Masih banyak lagi penggalan legenda yang menceritakan kejeniusan Hua Tuo dalam ilmu bedah. Diantaranya seperti yang terekam dalam buku the Wei Zhi. Dilaporkan bahwa untuk mengatasi penyakit-penyakit intestinal, Hua Tuo “akan memotongnya, membersihkannya, menjahit abdomen, dan menggosokkan salep; penyakit akan pulih dalam waktu empat atau lima hari ke depan. ”

Ada juga cerita tentang Jenderal Guan Yu, yang lengannya terluka oleh anak panah beracun selama pertempuran. Jenderal Guan dengan tenang duduk bermain catur sementara ia mengizinkan Hua Tuo untuk membersihkan dagingnya yang turun ke tulang untuk memindahkan necrosis, tanpa anestesc. Peristiwa ini menjadi subjek sejarah yang populer dalam seni lukisan Tiongkok. (Lihat gambar).

Hua Tuo lahir sekitar tahun 110 A.D., di daerah Qiao of Peiguo (sekarang disebut Haoxian atau Bo), kini menjadi bagian dari Provinsi Anhui, satu dari empat daerah pusat distribusi herbal utama di Cina modern. Ia hidup selama lebih kurang 100 tahun, dan meninggal sekitar tahun 207 A.D. Dia lebih tua dari herbalis Tiongkok kontemporer yang terkenal Zhang Zhongjing, yang meninggal sekitar tahun 220 A.D.

Dalam buku the Chronicles of the Later Han Dynasty, dikisahkan bahwa: karena memahami dengan baik cara memelihara kesehatan, Hua Tuo masih terlihat sehat dan bugar ketika berusia hampir 100 tahun, sehingga dianggap sebagai abadi. Konon kabarnya Hua Tuo meninggal karena Cao Cao, penguasa negara Wei, membunuhnya dengan alasan yang tidak jelas. Sebagian kisah menyebutkan karena sikap ragu Hua Tuo untuk menerima tawaran Cao Cao yang memintanya untuk kembali menjadi dokter pribadinya. Kisah yang lain mengungkapkan karena Cao Cao menuduhnya berusaha melakukan usaha pembunuhan ketika Hua Tuo menganjurkan bedah otak sebagai tindakan pengobatan untuk sakit kepalanya yang kronis. Menurut buku the Records of the Wei Dynasty (Wei Zhi), Cao Cao membunuh Hua Tuo pada tahun 207 A.D. pada usia 97 tahun.

Pada masa mudanya, Hua Tuo belajar dan menguasai beragam ilmu pengetahuan klasik, bukan hanya yang berkaitan dengan pengobatan dan kesehatan,tetapi juga ilmu astronomi, geografi, sastra, sejarah dan pertanian. Hua Tuo termotivasi untuk menekuni bidang pengobatan setelah menyaksiakan begitu banyak penduduk yang mati akibat epidemi, kelaparan, dan luka-luka karena peperangan.

Ayahnya meninggal ketika Hua Tuo berusia tujuh tahun. Sepeninggal ayahnya, keluarganya hidup dalam kemiskinan. Namun ibunya berkeinginan keras agar ia meraih kesuksesan dalam karir. Untuk memenuhi keinginan ibunya, ia berjalan hingga ratusan kilo meter ke Xuzhou untuk mempelajari seluruh ilmu pengobatan klasik yang tersimpan di sana. Ia belajar dari seorang dokter terkenal yang bernama Cai. Ia belajar tanpa mengenal lelah sambil mempraktekkan pengetahuan pengobatan yang dipelajarinya. Akhirnya ia menjadi ahli dalam beberapa bidang pengobatan, termasuk akupunktur, gynecology, pediatrics, dan pembedahan.

Hua Tuo juga dijuluki sebagai the “miracle working doctor” (juga diterjemahkan sebagai dokter setengah dewa (divine physician; shenyi) karena penekanannya pada penggunaan sejumlah kecil titik akupunktur atau sejumlah kecil herbal dalam resep untuk memperoleh hasil pengobatan yang efektif.

Beberapa ucapan bijaksana diatribusikan kepadanya; diantaranya yang berkaitan dengan anjuran untuk memotivasi orang untuk melakukan latihan agar tetap sehat. Ia mengatakan: “tubuh memerlukan latihan, tetapi jangan berlebihan. Gerakan mengkonsumsi energy yang dihasilkan oleh makanan dan meningkatkan sirkulasi darah, sehingga tubuh terbebas dari penyakit persis seperti engsel pintu yang tidak pernah dimakan karat.”

Sebagai pengikut Taoist yang taat (Anhui juga merupakan tempat kelahiran pendiri Taoist yang legendaris Laozi dan Zhuangzi), Hua Tuo benar-benar mengikuti prinsip-prinsipnya, pengabdiannya di bidang pengobatan tidak dimaksudkan untuk mencari ketenaran atau keberuntungan, meskipun banyak pujian disampaikan padanya. Ia melayani sebagai dokter di daerah yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Jiangsu dan Shandong dekat dengan Provinsi kelahirannya Anhui, dan menolak tawaran untuk menjadi dokter pemerintah.

Hua Tuo bukan hanya termasyhur di masa hidupnya. Kemasyhurannya juga melintasi zamannya hingga ke masa kini. Kejeniusannya dalam mengobati pasien ikut diabadikan dalam novel-novel sejarah, seperti Romance of the Three Kingdoms dan Taiping’s Comprehensive Anthology of Stories. Menjadi tradisi di masa lalu, bila seorang pasien berhasil disembuhkan karena usaha dari seorang dokter yang kompeten, keluarganya akan mempersembahkan papan/kartu ucapan selamat dengan kata-kata: Seorang Hua Tuo kedua.

Bahkan sekarang nama dan gambarnya masih menghiasi berbagai produk kesehatan, mulai dari merk dagang untuk jarum akupunktur hingga plester pengobatan.

Menurut riwayat Hua Tuo menulis beberapa buku, namun tidak satupun yang diwariskan, sehingga sebagian besar pengetahuan pengobatan yang dikuasainya tetap tidak diketahui. Sebuah kisah menceritakan saat ia berada di dalam penjara menunggu saat kematiannya. Menjelang kematiannya, Hua Tuo menyerahkan karya-karyanya, secara kolektif disebut sebagai the Book of the Black Bag, kepada sipir penjara dan memintanya untuk membantu menyelamatkan kehidupan masyarakat dengan buku-buku pengobatannya, tetapi sipir penjara tidak berani menerimanya, dan Hua Tuo membakarnya. Cerita lain menyebutkan sipir penjara membawa buku tersebut ke rumah, tetapi isterinya takut timbul masalah terhadap mereka dan membakarnya.

Meskipun demikian diperkirakan beberapa pengajaran Hua Tuo diabadikan dalam buku-buku lain yang terbit pada abad-abad selanjutnya, seperti the Pulse Classic, Prescriptions Worth a Thousand Gold, dan Medical Secrets of an Official. Ada sebuah buku yang berasal darinya, tetapi telah ditentukan berasal dari seorang penulis yang jauh setelahnya, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Master Hua’s Classic of the Central Viscera (Zhong Zang Jing), dengan klaim yang belum pasti bahwa hanya satu gulungan dokumen Hua yang dibakar dan ini datang melalui tanpa cacat/cedera. Dengan cara yang sama, sebuah buku yang berjudul Prescriptions of Surgery telah diatribusikan ke Hua Tuo, tetapi dipercaya telah dikumpulkan setidaknya satu atau dua abad setelah kematiannya.

Ada beberapa dokumen ringkas yang dihasilkan selama era terakhir Dynasti Han pada abad ke-5, dimana satu yang bertahan berjudul Liu Junzi’s Mysterious Remedies. Seperti dokumen-dokumen yang lain pada masa itu, ia terutama fokus pada pada membedah bisul (lancing of carbuncles) dan membersihkan deep ulcers, dan juga beberapa pembedahan permukaan, bukan pembedahan abdominal yang Hua Tuo katakan telah dilakukannya.

Hua Tuo memiliki beberapa orang murid, termasuk Wu Pu, Fan E, and Li Dangzhi, seluruhnya dokter-dokter yang jenius. Mereka juga mempraktekkan qi gong, akupunktur, pengobatan herbal dan yang lainnya yang mereka pelajari dari Hua Tuo. Dikatakan bahwa Wu Pu menulis sebuah petunjuk herbal dan Fan hidup lebih dari 100 tahun

Hari Kebesaran Dewa Huá Tuó Xiān Shī (華佗仙師) di Rayakan setiap tgl 18 – 4 Imlik.

 


Spread the love

Categories: TAOIST

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.