KESADARAN (bagian 2)

Spread the love

oleh Albert Tjhie

(Tulisan lanjutan dari Thread KESADARAN ILUSI)

Seorang kakek dan 2 anak kecil naik sebuah kereta. Didalam kereta kedua anak kecil tersebut tidak mau diam. Mereka berlarian, bercanda dan kadang berteriak. Para penumpang lain merasa terganggu dan mulai merasa kesal. Sampai akhirnya seorang penumpang tidak tahan dan berkata “Pak, tolong urus anak Bapak, kami terganggu sekali dengan tingkah mereka !!!”.
Sang kakek memanggil kedua anak itu lalu memeluknya.
Kemudian kakek tersebut berkata: “Maafkan kedua cucuku ini, mereka baru saja kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan yang tragis, mungkin mereka masih belum stabil jiwanya.”
Mendengar jawaban tersebut, suasana hati para penumpang berubah drastis. Hati mereka yang tadinya merasa kesal berubah menjadi iba. Mereka yang awalnya ingin membentak akhirnya ikut menyapa, mengajak bercanda bahkan ada yang memberi permen kepada kedua anak tersebut.

Sebenarnya apakah yang berubah?
Yang berubah hanyalah PENGERTIAN (Pikiran) para penumpang.
Kesadaran manusia secara sederhana terdiri dari 2 unsur yaitu Hati dan Pikiran. Ketika mereka Pikiran mereka menyadari kondisi anak itu, maka suasana Hati mereka berubah.

Secara sederhana, level hati manusia bisa dikelompokan menjadi 3, yaitu:
Level yang umum adalah level seperti para penumpang kereta. Setelah Pengertian dibenahi, maka hati terkendali.
Level terendah adalah org yang meskipun dijelaskan kondisi anak kecil tetap saja hatinya beku dan kesal.
Level tertinggi adalah hati yang lapang bagai telaga. Meskipun dia tidak tahu kondisi anak kecil tersebut, tetap saja hatinya lapang dan tidak bergolak.

Dunia psikologi modern baru sampai tahap olah Pikiran.
Misalnya berpikir positif, berpikir luas, optimis dll.
Itu semua masih dalam lingkup Membina Pikiran yg bertujuan untuk untuk ‘Mengelola Hati’.
Mereka belum sampai pada tahap ‘Membina Hati’ atau ‘Merevisi Hati’.
Membina hati sangat sulit dan memerlukan waktu puluhan tahun, sedangkan membina pikiran lebih mudah dan cepat. Itu sebabnya dalam belajar spiritual selalu diawali dengan Membina Pikiran lebih dulu. Berusaha mengembangkan pengertian, memperluas sudut pandang dll. Ini untuk mengelola dan mengendalikan hati. Sehingga bisa mengendalikan diri / perilaku.
Tetapi sebenarnya intisari Spiritual adalah Membina Hati.
Kalau dalam Tao yang ingin dituju adalah kondisi Hati yang Bening seperti anak kecil.
Hati yang belum terbentuk oleh doktrin dan polusi duniawi.
Bagaimana caranya?…..


Spread the love

Categories: Artikel

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.