Shan Guo《山果》

Spread the love


Shan Guo

一个市委书记含泪推荐这篇短文,连人民日报都分享了!
2017-04-19 政商阅读
中共中央总书记习近平同志近日推荐:昨晚在群里看到《山果》一文,我看了两遍还是难以忘怀释手,真是感动人。太值得一读,中国还有太贫穷真善良的人!善良得叫人落泪无言。

这是一篇什么样的文章,让总书记为之动容?随后,人民日报微信也转载了该文,让我们一起来看一看。

山果
作者:黄兴蓉
来源:人民日报、人民论坛网

我常抱怨日子过得不称心。我知道这么想没有什么可指责之处,人朝高处走,水往低处流嘛。但是怎么算过得好?应该和谁比?我不能说不模糊。前些日子我出了一趟远门,对这个问题好像有了一点感悟。

我从北京出发到云南元谋县,进入川滇边界,车窗外目之所及都是荒山野岭。火车在沙窝站只停两分钟,窗外一群约十二三岁破衣烂衫的男孩和女孩,都背着背篓拼命朝车上挤,身上那巨大的背篓妨碍着他们。

我所在的车厢里挤上来一个女孩,很瘦,背篓里是满满一篓核桃。她好不容易地把背篓放下来,然后满巴掌擦着脸上的汗水,把散乱的头发抹到后面,露出俊俏的脸蛋儿,却带着菜色。半袖的土布小褂前后都是补丁,破裤子裤脚一长一短,也满是补丁,显然是山里的一个穷苦女娃。

车上人很多,女孩不好意思挤着我,一只手扶住椅背,努力支开自己的身子。我想让她坐下,但三个人的座位再挤上一个人是不可能的,我便使劲让让身子,想让她站得舒服些,帮她拉了拉背篓,以免影响人们过路。她向我表露着感激的笑容,打开背篓的盖,一把一把抓起核桃朝我的口袋里装,我使劲拒绝,可是没用,她很执拗。

慢慢地小姑娘对我已不太拘束了。从她那很难懂的话里我终于听明白,小姑娘十四了,家离刚才的沙窝站还有几十里,家里的核桃树收了很多核桃,但汽车进不了山,要卖就得背到很远的地方,现在妈妈病着,要钱治病,爸爸才叫她出来卖核桃。她是半夜起身,一直走到天黑才赶到这里的,在一个山洞里住了一夜,天不亮就背起篓子走,才赶上了这趟车。卖完核桃赶回来还要走一天一夜才能回到家。

“出这么远门你不害怕吗?”我问。

“我有伴儿,一上车都挤散了,下车就见到了。”她很有信心地说。

“走出这么远卖一筐核桃能赚多少钱?”

“刨除来回车票钱,能剩下十五六块吧。”小姑娘微微一笑,显然这个数字给她以鼓舞。

“还不够路上吃顿饭的呢!”我身边一位乘客插话说。

小姑娘马上说:“我们带的有干粮。”

那位乘客真有点多话,“你带的什么干粮?”

“我已经吃过一次了,还有一包在核桃底下,爸爸要我卖完核桃再吃那些。”

“你带的什么干粮?”那位乘客追问。

“红薯面饼子。”

周围的旅客闻之一时凄然。

就在这时,车厢广播要晚点半小时,火车停在了半道中间。我赶忙利用这个机会,对车厢里的旅客说:“这个女孩带来的山核桃挺好吃的,希望大家都能买一点。”

有人问:“多少钱一斤?”

女孩说:“阿妈告诉我,十个核桃卖两角五分钱,不能再少了。”

我跟着说:“真够便宜的,我们那里卖八块钱一斤呢。”

旅客纷纷来买了,我帮着小姑娘数着核桃,她收钱。那种核桃是薄皮核桃,把两个攥在手里一挤就破了,生着吃也很香。一会儿,那一篓核桃就卖去了多半篓。那女孩儿仔细地把收到的零碎钱打理好,一脸的欣喜。

很快到了站,姑娘要下车了,我帮她把背篓背在肩上。然后取出一套红豆色的衣裤,放进她的背篓。对她说:“这是我买来要送我侄女的衣服,送你一套,回家穿。”

她高兴地侧身看那身衣服,笑容中对我表示着谢意。此时一直在旁边玩扑克的4个农民工也急忙站起来,一人捏着五十元钱,远远伸着手把钱塞给小姑娘:“小妹妹,我们因为实在带不了,没法买你的核桃,这点钱拿回去给你妈妈买点药。”姑娘哭了,她很着急自己不会表达心里的感谢,脸憋得通红。

小姑娘在拥挤中下车了,却没有走,转回来站到高高的车窗跟前对那几位给她钱的农民工大声喊着:“大爷!大爷们!”感激的泪水纷挂在小脸上,不知道说什么好。那几位农民工都很年轻,大爷这称呼显然是不合适的。她又走到我的车窗前喊:“阿婆啊,你送我的衣服我先不穿,我要留着嫁人时穿,阿婆……”声音是哽咽的。“阿婆,我叫山果,山——果——”……

灿烂阳光下的这个车站很快移出了我们的视线。我心里久久回荡着这名字:山果!眼里也有泪水流出来。车上一阵混乱之后又平静了,车窗外那一簇簇漫山遍野的野百合,静静地从灌木丛中探出素白的倩影倏尔而过,连同那个小小的沙窝站,那个瘦弱的面容姣好的山果姑娘,那些衣衫不整的农民工,那份心灵深处的慈爱消隐在莽莽群山中……

目前,这篇文章在人民日报微信中获得一万多个点ZAN,大家都被孩子的善良和纯真感动了:

如果您也被感动
别忘了传给更多人
(http://mt.sohu.com/view/d20170423/135788918_639953.shtml)

Tulisan …. Renungan WU seorang nenek di Beijing.

JADI ORANG HARUS BISA BERSYUKUR DENGAN APA YANG TELAH DIMILIKINYA SELAMA INI.
Jangan sampai menyalahkan nasib …..
Konon Presiden RRT sampai terharu saat membaca tulisan ini loh ……


Judulnya: SHAN GUO ( Buah Gunung).
Penulis: Huang Xing Rong.
Penerjemah: Ss.Lie Ing Sen.

Saya sering mengeluh hidupku tidak memuaskan. Saya tahu berpikir demikian tidak ada salahnya, kan manusia ingin melihat keatas, seperti halnya air akan selalu mengalir ketempat yang rendah.  Namun bagaimana yang namanya hidup yang memuaskan itu? Harus dibandingkan dengan siapa? Saya pun agak bingung jadinya!  Sampai saatnya beberapa hari yang lalu ketika saya berpergian keluar kota, sebuah kejadian rasanya sedikit membuat aku menemukan jawaban bagi pertanyaan diatas itu !
Waktu itu aku berangkat dari Beijing ke Yun Nan, saat kereta api sampai diperbatasan propinsi Yun Nan, dari jendela yang terlihat hanya gunung-gunung dengan hutannya yang lebat.
Kereta berhenti di stasiun Sha Woo selama 2 menit, mendadak terlihat sekelompok remaja usia 12 – 13 th , dengan pakaian lusuh dan compang camping sambil masing-masing memanggul ketanjang, berdesakan berusaha naik keatas kereta api, keranjang yang besar-besar itu nampaknya menyulitkan mereka untuk naik keatas kereta.
Di bagian gerbong saya, naiklah seorang remaja putri yang kurus sekali, dia memanggul sekeranjang penuh buah He Dao (kacang kenari). Setelah susah payah menurunkan keranjangnya, lalu dengan tangannya sibuk mengusap keringat dimukanya sambil merapikan rambutnya kebelakang kepala, terlihat wajahnya yang tirus dan cantik tapi pucat, bajunya penuh tambalan disana sini, begitu pula celana bututnya penuh tambalan, jelas-jelas mencerminkan seorang anak desa yang sangat miskin.
Gerbong ini penuh penumpangnya, gadis itu terlihat agak segan berdiri nempel didekatku, satu tangannya berpegangan dipinggiran kursi, sekuat tenaga menunjang badannya supaya tidak mepet ke tubuh saya.
Saya berusaha memberi sedikit tempat untuk dia duduk, namun kursi yang hanya cukup untuk duduk berdua jelas tidak mungkin lagi buat 3 orang duduk bersamaan. Maka saya berusaha menggeser tempat, supaya gadis itu bisa berdiri lebih nyaman, dan bantu dia merapikan keranjangnya, supaya tidak menghalangi orang lewat.
Gadis itu membalas dengan senyuman penuh terima kasih, dibukanya tutup keranjang, lalu mengambil segenggam besar He Dao untuk secara paksa dimasukkan kesaku bajuku, aku menolak menerimanya tapi tak berdaya, karena gadis itu sangat ngotot sekali ingin memberi hadiah kepada ku.
Pelan-pelan, gadis itu sudah lebih akrab dengan ku, dari logat bahasa dusun yang sulit saya tangkap, akhirnya saya paham bahwa usianya baru 14 th, jarak rumahnya dari stasium Sha Woo kira-kira beberapa puluh km. Kebunnya sedang panen banyak buah He Dao, tapi karena mobil tidak bisa masuk ke desanya, kalau mau menjual hasil kebun ya harus memikul dan berjalan ketempat yang sangat jauh. Saat ini ibunya sedang sakit, butuh uang untuk berobat, maka bapaknya menyuruh dia keluar menjual He Dao.
Ceritanya …. dia bangun tengah malam dan berjalan sampai petang berikutnya …. lalu nginap semalam disebuah goa , pagi-pagi jalan lagi baru bisa mengejar keteta ini di Stasiun Sha Woo. Nanti setelah habis menjual He Dao, pulangnya masih harus berjalan kaki sehari semalam baru sampai di rumah.
“Perjalanan yang jauh gitu, apa kamu nggak takut!” tanya saya.
” Saya ada teman kok, begitu naik keatas kereta kami berpencar, nanti pas turun akan ketemu lagi” jawabnya penuh keyakinan.
” Jalan jauh begini, menjual 1 keranjang He Dao bisa untung berapa?”
“Setelah dipotong ongkos kereta pulang pergi, sisanya ya sekitar 15 – 16 Yuan lah!” jawabnya sambil tersenyum. …. Jelas nampak kalau angka itu membanggakan dirinya.
“Loh, masih nggak cukup untuk makan sehari donk!” celetuk penumpang disamping saya.
Gadis itu cepat menjawab ” Kami ada membawa bekal juga”
Penumpang kepo itu tanya lagi “Bekal apa yang kamu bawa?”
“Saya sudah makan sekali, masih ada sebungkus dibawah tumpukan buah He Dao itu, bapakku bilang setelah He Dao nya habis terjual, baru boleh dimakan!”
“Kamu bawa bekal apa sih?” desak penumpang kepo itu lagi.
“Lapek Ubi Merah!” jawab gadis itu dengan lirih malu-malu.
Seketika….. semua penumpang yang mendengar langsung merasa terenyuh dan sedih. Pada saat itu, ada pengumuman bahwa kereta harus berhenti 30 menit sebelum masuk stasiun berikutnya. Aku cepat-cepat menggunakan kesempatan ini bicara kepada para penumpang, bahwa ” He Dao yang dibawa anak itu sangat enak sekali, diharapkan semua penumpang mau membeli untuk oleh-oleh!”
Langsung ada yang tanya ” Berapa harganya 1 kati?”
Ibu memberi tahu saya, 10 buah He Dao harganya 0,25 Yuan, tidak bisa kurang lagi, kata gadis itu.
Aku timpali ….. wah murah sekali, ditempat saya malah 8 Yuan satu katinya loh!
Para penumpang jadi berebut membeli, saya bantu anak itu menghitung buah He Dao, dia sibuk menerima dan menghitung uangnya.
sebentar saja , He Dao nya laku lebih dari 2/3 keranjang, gadis itu dengan cermat mbenahi uang receh yang diterimanya dengan penuh suka cita.
Sudah hampir sampai tujuan, gadis itu akan turun dari kereta, saya bantu dia memanggulkan ketanjang di punggungnya. Saya ambil sepasang baju dan celana warna merah dan masukkan dikeranjangnya sambil berkata “Ini adalah baju yang saya belikan untuk keponakanku, sekarang saya kasih kamu untuk dipakai setelah pulang kerumah nanti ya!”
Terlihat gadis itu sangat gembira, sambil memiringkan badan berusaha melihat baju yang saya berikan, sambil berucap terima kasih!
Bersamaan dengan itu ada 4 orang pemuda pekerja musiman yang sedang main kartu didekat kami, cepat-cepat berdiri masing-masing memberikan uang kertas 50 Yuan kegadis itu sambil berkata “Gadis kecil kami memang sudah tidak bisa membawa barang lagi, makanya tidak beli He Dao kamu, tapi uang ini untuk kamu bawa pulang dan belilah obat buat ibumu ya, semoga cepat sembuh !”
Gadis itu menangis, mukanya memerah, mungkin karena bingung tidak mampu mengucapkan kata-kata lagi.
Gadis kecil itu akhirnya turun dari kereta api, tapi kembali kedepan jendela kereta ….. mengucapkan terima kasih kepada 4 orang pekerja musiman yang balik kampung itu “Saudara kakak besar ….. kakak besar …..” sambil meleleh air matanya bingung entah ingin mengucapkan apa!!!
Kemudian mampir lagi didepan jendela kereta saya ….. “Nek …. nenek, baju yang nenek berikan itu saya simpan dulu, dan akan saya pakai saat saya menikah nanti …..” Sambil sesenggukkan ….. “Nenek , namaku SHAN GUO nek ….., SHAN —– GUO …..”
Sejenak stasiun ini pun sdh ditinggalkan oleh kereta api. Dalam hatiku masih menggema sebuah nama ….. Shan Guo …… diam-diam air mataku juga sudah mengalir tanpa bisa dibendung lagi ……
Ternyata didunia ini masih ada sekelompok orang yang sederhana lugu penuh empati dan welas asih.
Selesai ……


Spread the love

Categories: Cerita Inspiratif

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.